Prolog
Pak Hartawan menarik napas pelan
memasuki rongga dadanya. Keningnya berkerut. Dia menatap Nuri, memasuki ruang
hati anaknya dan bertanya. Di lubuk hatinya, dia berharap Nuri memilih lelaki
yang –menurutnya- lebih pantas sebagai pasangan hidupnya.
“Baiklah. Bagaimana perasaan kamu terhadap Yusuf nak?” Suara itu lembut,
namun membuat jantung Nuri berdetak kencang.
Nuri memberanikan diri menegakkan wajahnya.
Untuk pertama kalinya dia menyatakan perasaan di hadapan Yusuf sekaligus
menjawab pertanyaan Ayahnya. Perasaan rindu yang selama ini dia pendam,
akhirnya harus tumpah malam itu disaksikan oleh orang-orang yang disayanginya.
Mata Nuri basah. Dia tidak mampu menahan lagi. Lehernya
seperti tercekak kaku. Namun dia harus mengungkapkannya.
Nuri menenangkan dirinya. Dia menyapu air mata haru yang ada di matanya
dengan tisu. Menunduk dan mencoba menjawab walau dengan butir-butir air mata
yang membasahi wajahnya.
“Ayah, aku ingin tertawa bersama
dengan Yusuf dalam rasa, menangis
bersamanya dalam duka, melangkah bersamanya dalam harap, dalam sebuah ikatan
suci, sehingga saya bisa bercerita tentang debur kerinduan yang bermain di hati
ini.”
“Ayah, aku ingin mencintai Yusuf karena Allah, bukan hanya karena sebuah
nafsu, tapi karena harap meraih cinta-Nya.” Dada Nuri bergetar ketika dia
mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang belum pernah diucapkannya untuk
lelaki lain.
“Ayah, aku hanya ingin mencintai
seorang lelaki karena Allah. Hanya karena Allah semata. Izinkanlah anakmu ini
merasakan cinta itu ayah.” Nuri tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Suaranya
haru dalam serak, bu Hartawan ikut menangis mendengar kata-kata anaknya.
Suasana haru menyelimuti ruangan itu.
Semua menunggu. Entah jawaban apa
yang akan diberikan pak Hartawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar