Jumat, 25 Oktober 2013

Seindah Puisi Rindu (Sebuah Novel)



Prolog

Pak Hartawan menarik napas pelan memasuki rongga dadanya. Keningnya berkerut. Dia menatap Nuri, memasuki ruang hati anaknya dan bertanya. Di lubuk hatinya, dia berharap Nuri memilih lelaki yang –menurutnya- lebih pantas sebagai pasangan hidupnya. 
“Baiklah. Bagaimana perasaan kamu terhadap Yusuf nak?” Suara itu lembut, namun membuat jantung Nuri berdetak kencang.
Nuri memberanikan diri menegakkan wajahnya. Untuk pertama kalinya dia menyatakan perasaan di hadapan Yusuf sekaligus menjawab pertanyaan Ayahnya. Perasaan rindu yang selama ini dia pendam, akhirnya harus tumpah malam itu disaksikan oleh orang-orang yang disayanginya.
Mata Nuri basah. Dia tidak mampu menahan lagi. Lehernya seperti tercekak kaku. Namun dia harus mengungkapkannya.
Nuri menenangkan dirinya. Dia menyapu air mata haru yang ada di matanya dengan tisu. Menunduk dan mencoba menjawab walau dengan butir-butir air mata yang membasahi wajahnya.
 “Ayah, aku ingin tertawa bersama dengan  Yusuf dalam rasa, menangis bersamanya dalam duka, melangkah bersamanya dalam harap, dalam sebuah ikatan suci, sehingga saya bisa bercerita tentang debur kerinduan yang bermain di hati ini.”
            “Ayah, aku ingin mencintai  Yusuf karena Allah, bukan hanya karena sebuah nafsu, tapi karena harap meraih cinta-Nya.” Dada Nuri bergetar ketika dia mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang belum pernah diucapkannya untuk lelaki lain.
            “Ayah, aku hanya ingin mencintai seorang lelaki karena Allah. Hanya karena Allah semata. Izinkanlah anakmu ini merasakan cinta itu ayah.” Nuri tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Suaranya haru dalam serak, bu Hartawan ikut menangis mendengar kata-kata anaknya. Suasana haru menyelimuti ruangan itu.
            Semua menunggu. Entah jawaban apa yang akan diberikan pak Hartawan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar