Sabtu, 26 Oktober 2013

bab 1 (Bagian 3)



Mirah menoleh ke belakang dan melihat sahabatnya telah berada di belakangnya. Nuri, memakai jilbab biru yang lebar, nampak anggun. Senyumnya yang tenang berbeda jauh dengan Nuri yang terlihat sangat ceria.
            “Nuri.” Senyum renyah Mirah terlihat mengembang. Teriaknya yang agak keras membuat orang-orang di sekitarnya melirik ke arah mereka. Terpaksa Nuri memberi tanda dengan memancangkan jari telunjuknya di bibirnya agar Mirah mengecilkan sedikit suaranya.
            “Gimana, novel kamu dah ada yang laku gak?” Canda Nuri.
            “Haha. Lumayanlah, tadi sempat ada yang beli. Kamu gak mau beli? Lumayan buat nambah koleksi buku kamu.” Mirah melirik Nuri dengan muka merayu.
            “Haha. Gak deh. Entar kamu lebih kaya dari aku kalau aku beli novel kamu. Soalnya kamu dapat royaltinya banyak.” Canda Nuri sambil mencubit hidung sahabatnya.
            “Aduh, udah gak beli malah cubitin hidung aku. Belum diasuransiin tahu.” Mirah memasang muka manyunnya. Nuri hanya tersenyum geli.
            “Haha. Ingat umur.” Canda Nuri lagi.
            “What? Umur memang sudah 25-an, tapi muka masih abege getu loh. Maklum bergaulnya ma anak-anak.”
            Nuri hanya tersenyum dan tak menanggapi candaan terakhir sahabatnya itu. Dia teringat tujuannya ke sini adalah untuk ditraktir.
            “Jadi kita makan di mana?”
            “Ehmm, kamu maunya di mana?” Mirah balik bertanya.
            “Mie Merik aja.”
            “Ayo.”
            By the way, bukunya aku beli deh. Lumayan buat alas tidur.”
            “Huh.” Mirah berpura-pura kesal.
            Nuri menyikut Mirah pelan sambil tertawa. Mirah mengelak dari sikutan sahabatnya itu.
            Puas becanda, mereka berdua berjalan ke arah kasir, membayar novel yang dibeli Nuri.
            Ketika mereka tiba di tempat kasir, seorang pengunjung yang antri melihat ke arah Mirah, mencoba mengingat-ingat kapan dia melihat wajah tersebut. Dia tidak menyadari bahwa wajah itu terkadang ada di bagian belakang novel-novel yang dibuat oleh Mirah atau mungkin saja dia pernah melihatnya ketika Mirah diundang menjadi pembicara di sebuah acara yang membahas tentang novel-novelnya. Mirah hanya tersenyum melihat wanita tersebut melihatnya. Sang pengunjung membalas senyumnya sambil tetap mencoba mengingat.
“Terima kasih.”
Nuri mengucapkan terima kasih setelah kasir tersebut menyelesaikan tugasnya.
“Sama-sama.”
Kasir tersebut menjawab ramah.
***
            Sepanjang perjalanan, Mirah terlihat sangat ceria. Wanita berjilbab ini memang selalu ceria, tapi Nuri tidak pernah melihat dia seceria ini. Sedari dulu memang Nuri merasa persahabatannya dengan Mirah adalah hubungan yang unik. Nuri perlu penyeimbang. Nuri merasa Mirah adalah orang yang tepat untuk  menjadi sahabat.
            Dulu waktu SMA, Mirah adalah teman jalan Nuri. Mereka dulu punya geng. Geng The First namanya. Soalnya geng tersebut memang terdiri dari anak-anak orang yang mempunyai status yang terhormat di SMA Merdeka. SMA Merdeka merupakan salah satu sekolah favorit di Makassar waktu itu.
Orang tua Mirah dulunya termasuk orang yang berada, walau tidak sekaya keluarga Nuri. Orang tua Mirah adalah dokter bedah terkenal di Makassar. Hingga suatu musibah menimpa mereka ketika melakukan perjalanan liburan ke Malino.  Mereka mengalami kecelakaan ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang. Supir mobil yang menabrak mereka juga tewas. Ayah Mirah, dr. Ferry, dan ibunya. dr. Yanti,  tewas di tempat karena posisi mereka yang berada di bagian paling depan. Sedangkan adik Mirah satu-satunya, Riki, harus dirawat selama berhari-hari di ruang ICU. Untunglah dia masih diberikan umur yang panjang oleh Allah.
            Hanya Mirah yang selamat dan tidak mengalami musibah apapun. Dia hanya mengalami sedikit lecet di kepalanya. Mirah sempat down karena musibah tersebut. Dia sempat menangis dan tidak mau keluar rumah selama berhari-hari. Nuri yang merasa kasihan mengajak Mirah untuk tinggal di rumahnya sampai dia dapat bangkit kembali. Orang tua Nuri setuju dengan keinginan Mirah. Keluarga Nuri juga yang merawat Riki di rumah sakit dan mengurus pemakaman orang tua Mirah. Karena memang keluarga Mirah sudah tidak ada yang berdomisili di Makassar. Nenek dan kakek Mirah pun telah dipanggil ke hadirat-Nya bertahun-tahun yang lalu. Kejadian itu menyebabkan Mirah merasa sangat dekat dengan Nuri.
            Sejak musibah itu Mirah seakan mengalami pencerahan. Dari dulunya gadis yang manja menjadi mandiri. Setelah Riki sembuh, dia pun kembali ke rumah mereka di Pettarani. Mirah mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga Nuri yang telah membantu mereka. Mirah bertekad untuk hidup mandiri.
            “Mirah yakin bisa hidup berdua dengan Riki?”
            “Entahlah. Saya hanya bisa pasrah dengan takdir Allah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar