Mirah menoleh ke belakang dan melihat sahabatnya telah
berada di belakangnya. Nuri, memakai jilbab biru yang lebar, nampak anggun.
Senyumnya yang tenang berbeda jauh dengan Nuri yang terlihat sangat ceria.
“Nuri.”
Senyum renyah Mirah terlihat mengembang. Teriaknya yang agak keras membuat
orang-orang di sekitarnya melirik ke arah mereka. Terpaksa Nuri memberi tanda
dengan memancangkan jari telunjuknya di bibirnya agar Mirah mengecilkan sedikit
suaranya.
“Gimana,
novel kamu dah ada yang laku gak?” Canda Nuri.
“Haha.
Lumayanlah, tadi sempat ada yang beli. Kamu gak mau beli? Lumayan buat nambah
koleksi buku kamu.” Mirah melirik Nuri dengan muka merayu.
“Haha. Gak
deh. Entar kamu lebih kaya dari aku kalau aku beli novel kamu. Soalnya kamu
dapat royaltinya banyak.” Canda Nuri sambil mencubit hidung sahabatnya.
“Aduh,
udah gak beli malah cubitin hidung aku. Belum diasuransiin tahu.” Mirah
memasang muka manyunnya. Nuri hanya tersenyum geli.
“Haha.
Ingat umur.” Canda Nuri lagi.
“What?
Umur memang sudah 25-an, tapi muka masih abege getu loh. Maklum bergaulnya ma anak-anak.”
Nuri hanya
tersenyum dan tak menanggapi candaan terakhir sahabatnya itu. Dia teringat
tujuannya ke sini adalah untuk ditraktir.
“Jadi kita
makan di mana?”
“Ehmm,
kamu maunya di mana?” Mirah balik bertanya.
“Mie Merik
aja.”
“Ayo.”
“By the way, bukunya aku beli deh.
Lumayan buat alas tidur.”
“Huh.”
Mirah berpura-pura kesal.
Nuri
menyikut Mirah pelan sambil tertawa. Mirah mengelak dari sikutan sahabatnya
itu.
Puas
becanda, mereka berdua berjalan ke arah kasir, membayar novel yang dibeli Nuri.
Ketika
mereka tiba di tempat kasir, seorang pengunjung yang antri melihat ke arah
Mirah, mencoba mengingat-ingat kapan dia melihat wajah tersebut. Dia tidak
menyadari bahwa wajah itu terkadang ada di bagian belakang novel-novel yang
dibuat oleh Mirah atau mungkin saja dia pernah melihatnya ketika Mirah diundang
menjadi pembicara di sebuah acara yang membahas tentang novel-novelnya. Mirah
hanya tersenyum melihat wanita tersebut melihatnya. Sang pengunjung membalas
senyumnya sambil tetap mencoba mengingat.
“Terima kasih.”
Nuri mengucapkan terima kasih setelah kasir
tersebut menyelesaikan tugasnya.
“Sama-sama.”
Kasir tersebut menjawab ramah.
***
Sepanjang
perjalanan, Mirah terlihat sangat ceria. Wanita berjilbab ini memang selalu
ceria, tapi Nuri tidak pernah melihat dia seceria ini. Sedari dulu memang Nuri
merasa persahabatannya dengan Mirah adalah hubungan yang unik. Nuri perlu
penyeimbang. Nuri merasa Mirah adalah orang yang tepat untuk menjadi sahabat.
Dulu waktu
SMA, Mirah adalah teman jalan Nuri. Mereka dulu punya geng. Geng The First namanya. Soalnya geng tersebut
memang terdiri dari anak-anak orang yang mempunyai status yang terhormat di SMA
Merdeka. SMA Merdeka merupakan salah satu sekolah favorit di Makassar waktu
itu.
Orang tua Mirah dulunya termasuk orang yang berada,
walau tidak sekaya keluarga Nuri. Orang tua Mirah adalah dokter bedah terkenal
di Makassar. Hingga suatu musibah menimpa mereka ketika melakukan perjalanan liburan
ke Malino. Mereka mengalami kecelakaan
ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang. Supir mobil yang menabrak
mereka juga tewas. Ayah Mirah, dr. Ferry, dan ibunya. dr. Yanti, tewas di tempat karena posisi mereka yang
berada di bagian paling depan. Sedangkan adik Mirah satu-satunya, Riki, harus
dirawat selama berhari-hari di ruang ICU. Untunglah dia masih diberikan umur
yang panjang oleh Allah.
Hanya
Mirah yang selamat dan tidak mengalami musibah apapun. Dia hanya mengalami
sedikit lecet di kepalanya. Mirah sempat down
karena musibah tersebut. Dia sempat menangis dan tidak mau keluar rumah
selama berhari-hari. Nuri yang merasa kasihan mengajak Mirah untuk tinggal di
rumahnya sampai dia dapat bangkit kembali. Orang tua Nuri setuju dengan
keinginan Mirah. Keluarga Nuri juga yang merawat Riki di rumah sakit dan mengurus
pemakaman orang tua Mirah. Karena memang keluarga Mirah sudah tidak ada yang
berdomisili di Makassar. Nenek dan kakek Mirah pun telah dipanggil ke
hadirat-Nya bertahun-tahun yang lalu. Kejadian itu menyebabkan Mirah merasa
sangat dekat dengan Nuri.
Sejak
musibah itu Mirah seakan mengalami pencerahan. Dari dulunya gadis yang manja
menjadi mandiri. Setelah Riki sembuh, dia pun kembali ke rumah mereka di
Pettarani. Mirah mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga Nuri yang
telah membantu mereka. Mirah bertekad untuk hidup mandiri.
“Mirah yakin bisa hidup berdua dengan Riki?”
“Entahlah. Saya hanya bisa pasrah
dengan takdir Allah.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar