Setelah mengecilkan volume audionya, Nuri menyambung lagi
pembicaraannya. Terdengar suara Mirah mencari dirinya.
“Nur,
halo. Masih di sana?”
“Hadir
Jeng.”
“Kirain
dah tidur. Oh, lanjut lagi pembicaraan tadi. Honor menulis aku tuh tidak segede
hasil bisnis kamu Jeng. Jadi ya aku beda dengan kamu. Kalau aku tujuannya
memang buat cari makan, kalau kamu entah cari apa. Hehe.”
“Upss.
Rezeki itu bukan hanya dari segi material aja jeng. Kadang aku iri ma kamu.
Kamu bisa menggapai cita-cita kamu. Kamu punya semangat yang besar dalam
menjalani hidup ini. Aku harus belajar banyak dari Mirah. Aku kagum ma kamu dan
senang bersahabat denganmu.”
“Wah, jadi
terharu. Jangan buat aku sedih gitu dong neng. Jalan hidup tiap orang kan
berbeda-beda. Aku aja kalau lagi bokek pengen seperti kamu. Jadi orang kaya yang
segala kebutuhan hidupnya terpenuhi. Tapi aku nyadar, jalan hidup aku tidak
seperti kamu. Jalan hidup aku ya dengan bekerja keras dan mencari segala
kemungkinan. Kamu kan tahu aku anak yatim piatu.” Nada suara Mirah menurun,
berubah menjadi sedih.
Nuri
ikut merasakan kesedihan itu.
“Hoi, jadi
gimana? Jadi gak aku traktir?” Mirah kembali fokus ke tujuan utamanya. Dia
tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan.
“Haha.
Kenapa kamu gak ngajak cowok aja. Entar kita dikira pacaran lagi.” Canda Nuri.
“Sembarangan.
Kata pak ustadz, dosa tahu kalau berduaan ma cowok. Jadi kamu mau kan?”
“Aku masih
capek jeng. Gimana kalau entar sore aja?” Tawar Nuri.
“Ok. Entar
kamu sms aku ya kalau siap. Kita ketemunya di toko buku Medio aja. Sekalian aku mau melihat-lihat buku aku.”
“Sipp deh.”
“Kalau
gitu udahan dulu ya. Met tidur sobat. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam.”
Nuri menutup telepon genggamnya, memejamkan matanya. Dia merasa kelelahan itu
muncul lagi.
What a life!
Dia berharap dapat bermimpi indah dalam tidurnya kali ini.
***
Mirah
menatap buku yang ada di rak novel. Ada rasa bangga dalam dirinya. Matanya
berbinar-binar seperti anak kecil yang melihat mainan yang dia idamkan sejak
lama. Di cover buku tersebut tertulis namanya. Mirah Mustika. Senja di Ufuk Rindu judulnya.
Gambar pantai yang indah menjadi cover bukunya.
Mirah
mengambil novel tersebut dan membuka halaman demi halaman. Dia merasa cukup
puas dengan design serta lay out novelnya. Dia membuka bagian
paling belakang dari novelnya tersebut. Foto wajahnya yang menoleh ke samping
terlihat di biodata penulis.
Alhamdulillah.
Mirah memuji karunia Allah dalam hatinya.
Suara hape
yang menyala mengagetkan dirinya. Terdengar bunyi suara kokok ayam dari hape
tersebut. Orang-orang menatap Mirah, suara kokok ayam tersebut terdengar cukup
keras. Mirah lupa menyesuaikan volumenya. Dengan tergesa-gesa Mirah mencari
hape yang dibawanya di tasnya. Tangannya merogoh-rogoh tasnya. Dia melirik ke
dalam tasnya, hapenya terselip di antara pernik-pernik yang ada di dalam
tasnya. Dapat!
Mirah melirik nama orang yang tertera di layar
hapenya. Nuri yang menghubunginya. Wajah
Mirah berubah menjadi sumringah.
“Assalamu’alaikum
sobat.”
“Wa’alaikumussalam.
Ada di mana?” Nuri bertanya tanpa basa-basi.
“Di toko
buku Medio. Kamu di mana?”
“Aku lagi on the way ke sana. Ya, udah tunggu aku di sana.”
“Ok.”
“Assalamualaikum.”
‘Wa’alaikumussalam
warahmatullahi wabarakatuh.”
Mirah memasukkan
hapenya kembail ke dalam tasnya. Namun sebelumnya dia mengecilkan dulu volume
dering hapenya. Suara kokok ayam tadi bisa membuat dia menjadi perhatian orang
di toko buku ini. Untung saja dia tidak memilih bunyi hewan yang lain, bunyi
tapak kaki kuda sedang
berlari misalnya. Nanti orang mengira ada taman safari di tengah toko buku.
Setelah menyimpan hapenya, dia memutari rak bagian
novel tersebut dan mengambil satu nover yang bersampul best seller di covernya. Dia membandingkan novel yang ditulisnya dengan
novel best seller tersebut sejenak.
Dia membuka halaman demi halaman dan terlarut dalam ceritanya. Ini mirip dengan
penelitian baginya. Terkadang kita harus belajar dari karya orang lain untuk
menghasilkan karya yang bagus. Saking seriusnya, Mirah seperti orang autis yang
ada dalam toko buku. Perhatiannya hanya tertuju pada satu hal, membaca buku. Tak
dipedulikannya orang yang berlalu lalang di belakangnya.
“Mirah.”
Bisikan lembut terdengar di telinga Mirah. Suara yang merubah sense dalam jiwanya, dari serius menjadi penuh ceria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar