Jumat, 25 Oktober 2013

Bab 1 (bagian 2)



Setelah mengecilkan volume audionya, Nuri menyambung lagi pembicaraannya. Terdengar suara Mirah mencari dirinya.
            “Nur, halo. Masih di sana?”
            “Hadir Jeng.”
            “Kirain dah tidur. Oh, lanjut lagi pembicaraan tadi. Honor menulis aku tuh tidak segede hasil bisnis kamu Jeng. Jadi ya aku beda dengan kamu. Kalau aku tujuannya memang buat cari makan, kalau kamu entah cari apa. Hehe.”
            “Upss. Rezeki itu bukan hanya dari segi material aja jeng. Kadang aku iri ma kamu. Kamu bisa menggapai cita-cita kamu. Kamu punya semangat yang besar dalam menjalani hidup ini. Aku harus belajar banyak dari Mirah. Aku kagum ma kamu dan senang bersahabat denganmu.”
            “Wah, jadi terharu. Jangan buat aku sedih gitu dong neng. Jalan hidup tiap orang kan berbeda-beda. Aku aja kalau lagi bokek pengen seperti kamu. Jadi orang kaya yang segala kebutuhan hidupnya terpenuhi. Tapi aku nyadar, jalan hidup aku tidak seperti kamu. Jalan hidup aku ya dengan bekerja keras dan mencari segala kemungkinan. Kamu kan tahu aku anak yatim piatu.” Nada suara Mirah menurun, berubah menjadi sedih.
              Nuri ikut merasakan kesedihan itu.
            “Hoi, jadi gimana? Jadi gak aku traktir?” Mirah kembali fokus ke tujuan utamanya. Dia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan.
            “Haha. Kenapa kamu gak ngajak cowok aja. Entar kita dikira pacaran lagi.” Canda Nuri.
            “Sembarangan. Kata pak ustadz, dosa tahu kalau berduaan ma cowok. Jadi kamu mau kan?”
            “Aku masih capek jeng. Gimana kalau entar sore aja?” Tawar Nuri.
            “Ok. Entar kamu sms aku ya kalau siap. Kita ketemunya di toko buku Medio aja. Sekalian aku mau melihat-lihat buku aku.”
            “Sipp deh.”
            “Kalau gitu udahan dulu ya. Met tidur sobat. Assalamu’alaikum”
            “Wa’alaikumussalam.” Nuri menutup telepon genggamnya, memejamkan matanya. Dia merasa kelelahan itu muncul lagi.
            What a life!
            Dia berharap dapat bermimpi indah dalam tidurnya kali ini.
***
            Mirah menatap buku yang ada di rak novel. Ada rasa bangga dalam dirinya. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang melihat mainan yang dia idamkan sejak lama. Di cover buku tersebut tertulis namanya. Mirah Mustika. Senja di Ufuk Rindu judulnya. Gambar pantai yang indah menjadi cover bukunya.
            Mirah mengambil novel tersebut dan membuka halaman demi halaman. Dia merasa cukup puas dengan design serta lay out novelnya. Dia membuka bagian paling belakang dari novelnya tersebut. Foto wajahnya yang menoleh ke samping terlihat di biodata penulis.
            Alhamdulillah.
            Mirah memuji karunia Allah dalam hatinya.
            Suara hape yang menyala mengagetkan dirinya. Terdengar bunyi suara kokok ayam dari hape tersebut. Orang-orang menatap Mirah, suara kokok ayam tersebut terdengar cukup keras. Mirah lupa menyesuaikan volumenya. Dengan tergesa-gesa Mirah mencari hape yang dibawanya di tasnya. Tangannya merogoh-rogoh tasnya. Dia melirik ke dalam tasnya, hapenya terselip di antara pernik-pernik yang ada di dalam tasnya. Dapat!
Mirah melirik nama orang yang tertera di layar hapenya.  Nuri yang menghubunginya. Wajah Mirah berubah menjadi sumringah.
            “Assalamu’alaikum sobat.”
            “Wa’alaikumussalam. Ada di mana?” Nuri bertanya tanpa basa-basi.
            “Di toko buku Medio. Kamu di mana?”
            “Aku lagi on the way  ke sana. Ya, udah tunggu aku di sana.”
            “Ok.”
            “Assalamualaikum.”
            ‘Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”
            Mirah memasukkan hapenya kembail ke dalam tasnya. Namun sebelumnya dia mengecilkan dulu volume dering hapenya. Suara kokok ayam tadi bisa membuat dia menjadi perhatian orang di toko buku ini. Untung saja dia tidak memilih bunyi hewan yang lain, bunyi tapak kaki kuda sedang berlari misalnya. Nanti orang mengira ada taman safari di tengah toko buku.
Setelah menyimpan hapenya, dia memutari rak bagian novel tersebut dan mengambil satu nover yang bersampul best seller di covernya. Dia membandingkan novel yang ditulisnya dengan novel best seller tersebut sejenak. Dia membuka halaman demi halaman dan terlarut dalam ceritanya. Ini mirip dengan penelitian baginya. Terkadang kita harus belajar dari karya orang lain untuk menghasilkan karya yang bagus. Saking seriusnya, Mirah seperti orang autis yang ada dalam toko buku. Perhatiannya hanya tertuju pada satu hal, membaca buku. Tak dipedulikannya orang yang berlalu lalang di belakangnya.
            “Mirah.” Bisikan lembut terdengar di telinga Mirah. Suara yang merubah sense dalam jiwanya, dari serius menjadi penuh ceria.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar