1
Upps. Sampai juga di rumah!
Nuri
membuka pintu kamarnya. Terasa segar! Tercium aroma wewangian parfum ruangan
kesukaannya dari kamarnya. Nuri
menutup matanya dan menghirup aroma tersebut dalam-dalam. Dalam pikirannya
terbayang suasana taman yang penuh dengan bunga-bungaan. Harumnya menyerbak
memasuki hidungnya, memberi rasa nyaman dan mengobati rasa penat. Ada perasaan
nyaman yang hadir di jiwa Nuri.
Kamar yang dia rindukan. Sudah seminggu ini dia
sibuk hilir mudik ke sana ke mari jauh dari kenyamanan rumahnya. Menjalankan
suatu hidup yang penuh dengan kesibukan. Termasuk kegiatan yang telah
dilewatinya ini. Syukurlah semua selesai sudah.
Tito, adeknya sudah lebih dahulu masuk ke dalam
kamarnya. Tito ditugaskan menemaninya oleh ibunya, sekalian belajar bisnis kata
ibunya. Padahal Tito masih SMA. Tapi dasar Tito masih berjiwa remaja.
Dia lebih sibuk dengan mainannya dan mencari kaset game di
Jakarta daripada mengikuti kegiatan Nuri.
Telepon genggam
di tangan Nuri bergetar. Tangan Nuri merasakan getaran tersebut bermain-main di
kulitnya yang lembut. Nuri menatap malas ke arah telepon genggamnya. Bola
matanya sayu dan menyipit. Nuri berharap bukan panggilan kerjaan lagi untuknya.
Di layar teleponnya, terlihat wajah seseorang yang sangat dikenalnya. Mirah,
sahabat akrabnya sejak SMA. Nuri menjawab teleponnya, berharap ada sesuatu yang
penting. Dia merasa lelah sekali, maklum saja dia baru saja pulang dari
Jakarta. Badannya masih terasa pegal, dan dia butuh istirahat.
“Assalamu’alaykum.”
Salam Nuri setelah mengangkat teleponnya.
“Hoi Eka
Nuri Kusumaningsih. Ke mana saja? kok baru diangkat.” Suara Mirah yang ceria
membuat kantuk Nuri sedikit menghilang. Suara tersebut tidak juga berubah,
mengagetkan Nuri namun juga membuat dirinya terkadang ikut menjadi bersemangat
karenanya.
“Hoi,
Mirah Mustika, kamu gak sopan ya. Balas dulu dong salamnya.” Sambung Nuri
sambil tersenyum. Nuri mengubah posisi tubuhnya. Dia duduk di tepi ranjang,
sambil memeluk bantal.
“Oia, lupa. Wa’alaykumussalam warahmatullahi
wabarakatuh. Udah berapa kali aku telepon, kok telepon kamu tidak aktif? Sibuk
apaan?”
“Aku baru
pulang dari Jakarta. Masih capek. Tadi mungkin waktu kamu nelepon aku masih di
pesawat.” Nuri menjawab sambil mengubah lagi posisi tubuhnya. Dia tiduran sambil
memeluk bantal yang dipeluknya erat. Terasa lebih menyenangkan dari kamar hotel
manapun. Tiada tempat seindah rumah.
“Ngapain
di Jakarta Jeng?”
“Nyari
makan Neng. Aku capek banget nih, maklum acaranya padat. Hehe. Banyak fans.”
Nuri menghela napas sejenak. Mirah menggoda dengan ikut-ikutan menghela napas.
“Aku diundang jadi pembicara dalam acara motivasi
bisnis mengantikan ayah oleh Sekolah Bisnis Internasional milik rekan bisnis
ayah di sana. Soalnya ayah lagi urusan bisnis ke Singapura.”
“Haha.
Kalau kamu bilang ke Jakarta buat cari makan, nah kalau saya cari berlian dong.
Kamu kan pebisnis sukses, buat apa juga acara kayak gituan. Paling buat kamu
honornya gak seberapa.”
“Hoho,
jangan salah jeng Mirah. Semua ini berkaitan. Jadi pembicara dalam acara seperti
itu merupakan bagian dari pencitraan. You
know, bisnis itu perlu pencitraan. Kalau ada televisi yang meliput, nama
perusahaan aku akan lebih terkenal. Makanya kamu gabung aja dengan perusahaan
aku, biar kamu jadi staff aku dan bisa aku suruh-suruh. Hahaha.” Canda Nuri.
“Ogah.
Mending aku jadi guru TK aja. Ketemu Riko ama Amay, muridku yang lucu-lucu.
Kerja di perusahaan kamu bikin stress. Entar aku jadi banyak rambut putih.
Hahaha.”
Nuri terdiam.
Raut wajahnya berubah. Ada rasa tidak
nyaman dan iri mendengar perkataan sahabatnya itu. Mirah nampak sangat
menikmati pekerjaannya. Ada nuansa suka dalam ucapannya. Mengingatkan Nuri akan
sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya. Nuri tak bersuara beberapa detik.
Sampai Mirah memutuskan melanjutkan ucapan-ucapannya.
“Hoi, dari
pada kamu bengong, mending kita main aja ke Mal Panakkukkang. Nonton atau makan
kek. Tenang, biar saya saja yang traktir. Soalnya honor menulisku baru aja
keluar. Ok?”
“Honor
menulis apa lagi jeng? Makin exist aja
sebagai penulis. Aku jadi iri dan pengen menulis juga. Kira-kira kamu mau gak
mengajarin aku cara menulis buku?” Nuri memuji tulus.
“Itu loh,
novelku yang baru sudah terbit. Aku tadi ditelepon penerbit, dikabarin kalau
royalti aku dah dikirim. Alhamdulillah. Kalau kamu mau belajar nulis, gampang
saja sebenarnya, asal ada niat aja dulu, ma usaha. Tapi buat kamu honornya
kecil. Hahaha. Ndak sebanding lah ma bisnis kamu.” Suara tawa Mirah terdengar
keras di telinga Nuri. Memekakkan telinga. Nuri lalu mengecilkan volume audio hapenya
dengan mengklik tombol di samping hapenya. Mungkin saja hal tersebut karena
volume audio hapenya yang terlalu besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar