Jumat, 25 Oktober 2013

Bab 1 (bagian 1)



1
            Upps. Sampai juga di rumah!
            Nuri membuka pintu kamarnya. Terasa segar! Tercium aroma wewangian parfum ruangan kesukaannya dari kamarnya. Nuri menutup matanya dan menghirup aroma tersebut dalam-dalam. Dalam pikirannya terbayang suasana taman yang penuh dengan bunga-bungaan. Harumnya menyerbak memasuki hidungnya, memberi rasa nyaman dan mengobati rasa penat. Ada perasaan nyaman yang hadir di jiwa Nuri.
Kamar yang dia rindukan. Sudah seminggu ini dia sibuk hilir mudik ke sana ke mari jauh dari kenyamanan rumahnya. Menjalankan suatu hidup yang penuh dengan kesibukan. Termasuk kegiatan yang telah dilewatinya ini. Syukurlah semua selesai sudah.
Tito, adeknya sudah lebih dahulu masuk ke dalam kamarnya. Tito ditugaskan menemaninya oleh ibunya, sekalian belajar bisnis kata ibunya. Padahal Tito masih SMA.  Tapi dasar Tito masih berjiwa remaja. Dia lebih sibuk dengan mainannya dan  mencari kaset game di Jakarta daripada mengikuti kegiatan Nuri.
            Telepon genggam di tangan Nuri bergetar. Tangan Nuri merasakan getaran tersebut bermain-main di kulitnya yang lembut. Nuri menatap malas ke arah telepon genggamnya. Bola matanya sayu dan menyipit. Nuri berharap bukan panggilan kerjaan lagi untuknya. Di layar teleponnya, terlihat wajah seseorang yang sangat dikenalnya. Mirah, sahabat akrabnya sejak SMA. Nuri menjawab teleponnya, berharap ada sesuatu yang penting. Dia merasa lelah sekali, maklum saja dia baru saja pulang dari Jakarta. Badannya masih terasa pegal, dan dia butuh istirahat.
            “Assalamu’alaykum.” Salam Nuri setelah mengangkat teleponnya.
            “Hoi Eka Nuri Kusumaningsih. Ke mana saja? kok baru diangkat.” Suara Mirah yang ceria membuat kantuk Nuri sedikit menghilang. Suara tersebut tidak juga berubah, mengagetkan Nuri namun juga membuat dirinya terkadang ikut menjadi bersemangat karenanya.
            “Hoi, Mirah Mustika, kamu gak sopan ya. Balas dulu dong salamnya.” Sambung Nuri sambil tersenyum. Nuri mengubah posisi tubuhnya. Dia duduk di tepi ranjang, sambil memeluk bantal.
            “Oia, lupa. Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Udah berapa kali aku telepon, kok telepon kamu tidak aktif? Sibuk apaan?”
            “Aku baru pulang dari Jakarta. Masih capek. Tadi mungkin waktu kamu nelepon aku masih di pesawat.” Nuri menjawab sambil mengubah lagi posisi tubuhnya. Dia tiduran sambil memeluk bantal yang dipeluknya erat. Terasa lebih menyenangkan dari kamar hotel manapun. Tiada tempat seindah rumah.
            “Ngapain di Jakarta Jeng?”
            “Nyari makan Neng. Aku capek banget nih, maklum acaranya padat. Hehe. Banyak fans.” Nuri menghela napas sejenak. Mirah menggoda dengan ikut-ikutan menghela napas.
“Aku diundang jadi pembicara dalam acara motivasi bisnis mengantikan ayah oleh Sekolah Bisnis Internasional milik rekan bisnis ayah di sana. Soalnya ayah lagi urusan bisnis ke Singapura.”
            “Haha. Kalau kamu bilang ke Jakarta buat cari makan, nah kalau saya cari berlian dong. Kamu kan pebisnis sukses, buat apa juga acara kayak gituan. Paling buat kamu honornya gak seberapa.”
            “Hoho, jangan salah jeng Mirah. Semua ini berkaitan. Jadi pembicara dalam acara seperti itu merupakan bagian dari pencitraan. You know, bisnis itu perlu pencitraan. Kalau ada televisi yang meliput, nama perusahaan aku akan lebih terkenal. Makanya kamu gabung aja dengan perusahaan aku, biar kamu jadi staff aku dan bisa aku suruh-suruh. Hahaha.” Canda Nuri.
            “Ogah. Mending aku jadi guru TK aja. Ketemu Riko ama Amay, muridku yang lucu-lucu. Kerja di perusahaan kamu bikin stress. Entar aku jadi banyak rambut putih. Hahaha.”
            Nuri terdiam. Raut wajahnya berubah.  Ada rasa tidak nyaman dan iri mendengar perkataan sahabatnya itu. Mirah nampak sangat menikmati pekerjaannya. Ada nuansa suka dalam ucapannya. Mengingatkan Nuri akan sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya. Nuri tak bersuara beberapa detik. Sampai Mirah memutuskan melanjutkan ucapan-ucapannya. 
            “Hoi, dari pada kamu bengong, mending kita main aja ke Mal Panakkukkang. Nonton atau makan kek. Tenang, biar saya saja yang traktir. Soalnya honor menulisku baru aja keluar. Ok?”
            “Honor menulis apa lagi jeng? Makin exist aja sebagai penulis. Aku jadi iri dan pengen menulis juga. Kira-kira kamu mau gak mengajarin aku cara menulis buku?” Nuri memuji tulus.
            “Itu loh, novelku yang baru sudah terbit. Aku tadi ditelepon penerbit, dikabarin kalau royalti aku dah dikirim. Alhamdulillah. Kalau kamu mau belajar nulis, gampang saja sebenarnya, asal ada niat aja dulu, ma usaha. Tapi buat kamu honornya kecil. Hahaha. Ndak sebanding lah ma bisnis kamu.” Suara tawa Mirah terdengar keras di telinga Nuri. Memekakkan telinga. Nuri lalu mengecilkan volume audio hapenya dengan mengklik tombol di samping hapenya. Mungkin saja hal tersebut karena volume audio hapenya yang terlalu besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar